Rabu, 08 April 2009

PENILAIAN RANAH PSIKOMOTORIK SISWA

Penilaian merupakan suatu kegiatan yang tak mungkin dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pengajaran secara umum. Semua kegiatan pendidikan yang dilakukan harus selalu diikuti atau disertai dengan kegiatan penilaian. Mengingat kegiatan pendidikan dan pengajaran merupakan suatu proses, yaitu proses mencapai sejumlah tujuan yang telah ditetapkan, maka penilaian yang dilakukan harus juga merupakan proses. Penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Pengertian ini sesuai dengan pendapat Tuckman dalam Burhan Nurgiyantoro yang mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan (2001:5).
Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian harus mengembangkan kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap), kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan). Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, komponen atau unsur kebahasaan yang dinilai adalah meliputi hal-hal yang menjadi cakupan pengajaran bahasa. Cakupan pengajaran bahasa meliputi kompetensi kebahasaan, keterampilan berbahasa, dan kesusasteraan.
Kompetensi kebahasaan berkaitan dengan pengetahuan tentang sistem bahasa, tentang stuktur, dan kosa kata. Keterampilan berbahasa dibedakan menjadi dua kelompok, yakni kemampuan memahami (comprehension) dan mempergunakan (production), masing-masing bersifat reseptif dan produktif. Menurut Harris dalam Burhan Nurgiyantoro kemampuan reseptif merupakan proses decoding, proses usaha memahami apa yang dituturkan orang lain. Sebaliknya, kemampuan produktif merupakan proses encoding, proses usaha mengkomunikasikan ide, pikiran, atau perasaan melalui bentuk-bentuk kebahasaan (2001:167).
Untuk menilai kemampuan atau pencapai tujuan pembelajaran bahasa dikenal berbagai jenis tes kebahasaan yakni pertama bersifat diskrit yaitu tes yang hanya menekankan atau menyangkut satu aspek kebahasaan pada satu waktu (2001:169). Kedua bersifat integrative yakni mengukur kemampuan siswa mempergunakan berbagai aspek kebahasaan atau beberapa keterampilan berbahasa. Ketiga, pragmatic merupakan suatu pendekatan dalam tes keterampilan (skills) berbahasa untuk mengukur seberapa baik siswa mempergunakan elemen-elemen bahasa sesuai dengan konteks komunikasi yang nyata, dan keempat, tes komunikatif merupakan tes pragmatic yang lebih menekankan pada ketegasan dan kejelasan konteks, kejelasan yang tegas antara tes bahasa dengan aspek dan situasi-kondisi faktual dalam berkomunikasi.
Sebagaimana telah dibahas oleh kelompok sebelumnya tentang penilaian pada ranah afektif dan kognitif, maka dalam pembahasan makalah kelompok kami akan membahas penilaian dalam ranah psikomotorik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar